TENTANG TIMNAS : BERHARAP LALU KECEWA

featured

Gue bukan seorang maniak bola, tapi percayalah, gue setia menanti bila saatnya Timnas bermain.
Gue adalah satu dari sekian juta mata yang turut menunggu aksi sang garuda menerobos dan menerjang
lalu mencetak gol kebanggan. Percayalah, gue adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ikut
melonjak girang sambil berteriak kesurupan ampe-ampe bu kost ngetuk karena bikin keributan di kostan.

Hari ini, sekali lagi kita merasakan perasaan yang sama, perasaan kecewa serta pupusnya sebuah harapan.
Harapan yang tengah tumbuh, sekali lagi harus layu sebelum mekar. (langsyat! sok puitis!).

Tapi gue jadi ngerti kenapa ada istilah “Gila Bola”, karena bagi mereka yang mencintai sepakbola, tak ada
lagi yang namanya logika. Mereka yang menggilai sepakbola berpuluh-puluh kali menyimpan harapan
pada tim kebanggaannya, setiap tahun berharap juara, namun harapan itu tak pernah menjadi kenyataan.

Secara logika, tak ada satu orangpun yang akan mendukung sebuah tim yang hampir selalu mengecewakan,
namun logika sepakbola sungguh berbeda. Setiap musim yang baru, selalu muncul harapan baru. Maka
berbondong-bondonglah mereka memenuhi stadion, bersesak-sesak di depan layar televisi, demi memberi
dukungan. Ketika harapan dilambungkan lalu jatuh dan pecah maka kritik akan berlalu lalang. Tapi tengoklah,
ketika musim berganti harapan itu datang lagi, walau kemudian mungkin akan kecewa lagi. berharap-kecewa-
berharap-kecewa-berharap-kecewa tapi mencintai sepakbola tak seperti roman picisan yang cengeng dan penuh
air mata. berkali-kali kecewa, esok lusa mereka akan datang lagi dan berharap lagi.

Ya, seperti kita senantiasa berharap negeri ini menjadi negeri yang maju dan berkeadilan.

TERIMAKASIH TIMNAS, TERIMAKASIH.